Bandara Sultan Hasanuddin, Signifikan Topang Penerimaan Negara dan Daerah

20
Ilustrasi. Di Bandara Sultan Hasanuddin terdapat 8 maskapai domestik dan 4-6 maskapai internasional dengan lalu lintas udara 36.500 (pada 2024). Secara aktifitas penumpang, tercatat 5,9 juta juta penumpang domestik dan 259 ribu penumpang internasional (2024). POTO : DOK. BISNISSULAWESI.COM

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Bandara Sultan Hasanuddin Makassar di Maros turut memberikan kontribusi fiskal yang cukup signifikan bagi penerimaan negara dan daerah. Seluruh aktivitas di bandara, baik melalui jalur penerbangan, aktivitas penumpang, lalu lintas di bandara, pembelian tiket pesawat, pembelian barang dari luar negeri, bahkan secangkir kopi di resto bandara, membawa manfaat bagi negara dan daerah dalam bentuk pajak dan retribusi.

“Begitu masuk bandara, kita sudah berkontribusi langsung pada pendapatan bandara melalui ongkos parkir kendaraan,” ungkap Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Sulsel yang juga Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Sulsel, Wibawa Pram Sihombing itu saat memaparkan kinerja APBN Sulsel 2025, di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar di Maros, Rabu (27/08/2025).

Kepala Perwakilan Kemenkeu Sulsel yang juga Kepala Kanwil DJKN Sulsel, Wibawa Pram Sihombing. POTO : BALI PUTRA

Dikatakan Pram, pada 2023, tercatat pendapatan dari aktivitas parkir kendaraan mencapai Rp43,8 miliar, dan menopang retribusi pemerintah daerah yang diproyeksikan sebesar Rp13,5 miliar.

Di Bandara Sultan Hasanuddin terdapat 8 maskapai domestik dan 4-6 maskapai internasional dengan lalu lintas udara 36.500 (pada 2024). Secara aktifitas penumpang, tercatat 5,9 juta juta penumpang domestik dan 259 ribu penumpang internasional (2024).

“Dari sisi volume lalu lintas, tercatat 1,7 juta dengan 356 taksi, rent car, bus resmi dari 15 perusahaan yang menyebabkan perputaran ekonomi mencapai Rp19,7 miliar,” jelas Pram.

Ia juga memaparkan jejak Anggaran Pendapatan dan Belanja negara (APBN) di Bandara Sultan Hasanuddin. Di mana, APBN hadir melalui belanja negara pada 9 satuan kerja (Satker) di Bandara Sultan Hasanuddin sebesar Rp351,9 miliar. Pemerintah turut memperoleh manfaat melalui penerimaan pajak sebesar Rp54,4 miliar, pendapatan kepabeanan Rp1,23 miliar, PNBP satker Rp41,6 miliar, diikuti penerimaan pajak pemerintah daerah Rp32,1 miliar.

Dari sisi korporasi aktivitas pendapatan operasional Rp653,5 miliar, parkir pesawat Rp72,8 miliar, aviobridge (Garbarata) Rp14,2 miliar dan pelayanan jasa penumpang Rp334,5 miliar.

“Masyarakat turut merasakan manfaat langsung dari berbagai sektor pendukung seperti pendapatan pegawai bandara Rp121,8 miliar, pendapatan tenant Rp19,5 miliar, dan pergerakan kendaraan Rp19,7 miliar,” sebutnya.

Sementara itu, General Manager Angkasa Pura I Makassar, Minggus Gandeguai yang juga hadir di acara tersebut mengatakan, dalam waktu dekat akan mengoperasikan terminal internasional dan terminal kedatangan domestik yang baru. Sehingga akan menjadikan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Sulsel.

Di mana, bandara Sultan Hasanuddin melayani wilayah Indonesia timur secara internasional. Karena ada beberapa penerbangan internasional yang segera masuk, ada Cina, Arab Saudi. Diakui, saat ini secara penumpang internasional, masih kalah dengan utara (Bandara Sam Ratulangi, red)

Ia mendorong Makassar bisa menjadi pusat ekspor marine product, seperti dari Maluku, Papua, Sulawesi Utara dan lainnya. “Semuanya, berangkat ekspor dari sini (Makassar, red), sehingga akan berdampak lebih baik ke depan,” katanya.

Bali Putra