Antisipasi Disharmoni, Bimas Katolik Kanwil Kemenag Sulsel Intensifkan Dialog Intern

300
Dialog intern dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai moderasi beragama bagi masyarakat Katolik dalam menjalankan kehidupan sebagai warga negara sekaligus sebagai masyarakat Katolik. POTO : ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kantolik Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag Sulsel) menggelar berbagai kegiatan yang notabena bertujuan pada peningkatan kerukunan dan pelayanan kehidupan beragama 2023.

Pelaksanaan berbagai kegiatan tersebut merupakan upaya Bimas Katolik Kanwil Kemenag Sulsel mengimplementasikan 7 program perioritas sebagaimana dicanangkan Menteri Agama, Yaqut Choil Qoumas.

Di mana, ke tujuh program perioritas tersebut, penguatan moderasi beragama, transformasi digital, revitalisasi KUA kemandirian pesantren, cyber university, religiosity index dan tahun kerukunan umat bergama.

Selain melaksanakan pembinaan penyulub agama Katolik, juga digelar dialog intern dan moderasi beragama Tokoh Agama dan Masyarakat Katolik selama dua hari di kota Makassar, 28-29 April 2023. Kegiatan ini diikuti 50 peserta dari Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Bantaeng, Bulukumba, Soppeng, Barru, Pinrang dan Kota Parepare.

Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Sulsel. Drs. Paulus Palondongan, M.M menegaskan, kegiatan ini sangat penting karena salah satu karakteristik keberagaman adalah adanya perbedaan. Keberagaman agama, budaya, keyakinan dan cara pandang, di satu sisi menjadi kekayaan bangsa karena melaluinya setiap organisasi maupun pribadi dapat berkontribusi dengan keunikan yang dimiliki. Di sisi lain dapat menimbulkan berbagai persoalan antarpribadi maupun antarkelompok

“Indikasi pertentangan antaranggota masyarakat ini, juga dapat mengganggu harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.

Oleh karenanya, diperlukan pembinaan untuk meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai moderasi beragama bagi masyarakat Katolik dalam menjalankan kehidupan sebagai warga negara sekaligus sebagai masyarakat Katolik.

 Pimpinan lembaga agama Katolik, tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat Katolik baik di tingkat penceramah, pengelola rumah ibadat dan pengelola pustaka lembaga agama Katolik, hingga di tingkat akar rumput.

“Meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan yang benar akan nilai-nilai moderasi beragama, akan mendorong setiap pribadi untuk menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan dengan berbagai perbedaan yang melatarbelakangi,” tambahnya.

Baca Juga :   Program Makassar Recover Jadikan Wali Kota Danny Raih Kepala Daerah Inovatif

Pembinaan yang dilakukan, menjembatani berbagai kesenjangan interaksi dalam rangka menyikapi masalah-masalah sehubungan dengan kerukunan umat beragama. Hal ini akan meningkatkan keharmonisan dan kerukunan yang pada akhirnya meningkatkan toleransi intern dan antarumat beragama.

*/Editor : Bali Putra