Dengan Modal Rp 150 Ribu Kini Beromset Rp 26 Juta Kikome Rambah Pasar Pulau Jawa

Pemilik usaha Keripik Daun Singkok, Kikome, Asri Jumadi dan Produknya.

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR — Bagi penyuka jajanan atau camilan, nama Kikome tentu bukan hal asing. Rasanya yang gurih, membuat penyuka camilan ini selalu ingin Kikome tersedia di rumah sebagai camilan utama keluarga. Berbahan dasar daun singkong dan dikemas dalam dua rasa (Ori dan Spicy), Kikome diproduksi sejak 2015 dan kini sudah merambah pasar di pulau Jawa, terutama Yogyakarta.

Asri Jumadi, pemuda bertalenta wirausaha yang mampu menyulap daun singkong yang awalnya hanya merupakan bahan dasar sayur tradisional di meja makan, menjadi camilan berkualitas dengan kemasan modern, Kikome. Tentu saja Kikome tidak serta merta laris di pasaran dan menjadi kesukaan masyarakat seperti sekarang. Kikome yang merupakan kependekkan dari keripik leko lame (Keripik daun singkong dalam bahasa daerah Gowa), adalah nama ketiga sejak camilan ini diproduksi.

“Pertama namanya Karipik. Tetapi, pemasarannya tidak berkembang, jalan di tempat. Saya ganti steak dendeng. Juga tidak berkembang, masyarakat terlanjur mengidentikkan dendeng dengan daging. Akhirnya, ketemulah nama Kikome dan menjadi brand hingga sekarang. Alhamdullilah, perkembangannya pesat,” ungkap pria kelahiran Gowa, 4 Juni 1992 saat berbagi cerita sukses pada pelatihan vocational bagi kelompok strategis gerakan mahasiswa pengusaha di Aerotel Smile Hotel, Kamis (8/3).

Asri membangun usaha sejak masih berstatus mahasiswa Akuntansi di Fakultas Ekonomi Unismuh Makassar (Kini alumni, red). Kemampuannya mengembangkan usaha diakui berkat bimbingan dosen kewirausahaan dikampusnya, Basri Basir MR, SE.M.Ak. “Coach Basri banyak membimbing saya, khususnya mengenai kiat-kiat berwirausaha.

Minat menjadi pengusaha makin kuat ketika semester VII dimana, saat itu digelar expo bekerjasama HIPMI. Dari expo saya juga banyak belajar dari senior di HIPMI,” sebutnya.
Bahkan, besarnya keinginan menjadi pengusaha, bungsu pasangan Jumari dan Rasiyah sering bermalam di Kantor HIPMI. “Satu minggu itu bisa tiga kali. Sakeng inginnya jadi pengusaha dan agar bisa belajar dari senior di HIPMI,” tambahnya.

Baca Juga :   Nurdiana Hadade: Berinovasi dengan Pie Brownies Sulawesi

Saat ini, Asri sudah ada kontrak kerja dengan sebuah perusahaan dengan permintaan 1.000 pcs yang dibayar cash setiap bulan. Perusahaan tersebut kemudian memasarkan Kikome hingga ke pulau Jawa.

Asri juga memasarkan secara eceran di sejumlah gerai oleh-oleh. Juga sistem reseller. “Banyak mahasiswa minat berwirausaha, namun belum memiliki usaha. Makanya saya ajak bekerjasama sistem sharing sebagai reseller. Sistem ini dibuat sebisa mungkin sama-sama menguntungkan. Sambil para mahasiswa itu belajar bagaimana menjalankan usaha,” katanya.

Asri berbagi kiat untuk bisa mengembangkan usaha dengan baik. Pertama, seseorang harus punya kemauan yang kuat. Kendala pasti ada. Tetapi bagaimana menghadapi kendala dan memecahkannya, bukan putus asa. Modal yang biasanya dikeluhkan wirausaha pemula, jangan juga dijadikan alasan. “Modal itu nomor dua. Yang penting kemauan,” sebutnya seraya menambahkan, ia membangun usaha hanya dengan modal awal Rp 150 ribu. Rp 50 ribu untuk cicilan mesin dan Rp 100 ribu untuk membeli bahan baku.

Dari keuntungan terus diputar untuk menambah modal. Asri awalnya belum bisa menjalankan bisnis secara profesional. Uang pribadi dicampuradukkan dengan modal usaha. Sehingga sering tanpa disadari modal usaha dipakai untuk keperluan pribadi. Hal itu ternyata berdampak tidak baik untuk kelanjutan usaha. “Makanya, jika ada yang mau membangun usaha, sekecil apapun itu, harus dijalankan secara profesional, terutama soal modal. Harus dipisahkan antara modal usaha dan uang pribadi kalau tidak ingin usahanya gagal,” ujarnya.

Pertama hanya satu mesin yang dicicil dan dominan usaha dijalankan secara manual. Namun, seiring berjalan waktu, modal semakin berkembang, saat ini sudah ada tiga mesin untuk produksi, seperti mesin penggiling, mesin produksi dan mesin pengemas. Asri kini mempekerjaan 14 tenaga kerja dengan produksi 3500 pcs. Omset yang dikantongi Asri mencapai Rp 26 juta perbulan. Apalagi, belakangan beberapa peritel modern juga memintanya memasukkan Kikome ke minimarket mereka. “Tetapi belum deal karena ada beberapa pertimbangan,” sebut Asri seraya mengaku, selain punya tempat produksi di Gowa, bulan ini ia juga berencana membuka tempat produski di kawasan Jl. Perintis Makassar.

Baca Juga :   Untung Berlipat Penjual Ketupat

Asri memanfaatkan lahan keluarga untuk menanam singkong agar bisa diambil daunnya untuk bahan dasar Kikome. Juga bekerjasama dengan sejumlah petani sekitar. Mereka diarahkan untuk menanam singkong, kemudian daunnya dibeli untuk bahan baku produksi. Ini, secara langsung meningkatkan harkat petani juga lebih menguntungkan petani. /Bali Putra