Digital Farming, Solusi Atasi Kemerosotan Sektor Pertanian di Sulsel

256
POTO : ISTIMEWA

 

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Kantor Perwakilan BI Sulawesi Selatan menggelar talkshow “Peluang dan Tantangan Implementasi Digital Farming dalam Mendorong Produktivitas Sektor Ekonomi Sulawesi Selatan,” di Grand Ballroom Hotel Unhas, Selasa (24/110/2023).

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Selatan, M. Firdauz Muttaqin menyebutkan, Sulsel memiliki 5 sektor ekonomi utama yang konsisten mendorong pertumbuhan ekonomi setiap tahun. Sektor pertanian, perdagangan, industri pengolahan, konstruksi dan infokom.

Sektor LU pertanian, kehutanan dan perikanan konsisten menyumbang sekitar 20% PDRB Sulsel dengan rata-rata pertumbuhan 3,88% (yoy) dalam kurun waktu 3 tahun terakhir.

“Namun, ada beberapa permasalahan yang menghambat sektor pertanian untuk berkontribusi lebih baik dalam meningkatkan perekonomian Sulsel ke depan,” ujarnya.

Beberapa permasalahan itu kata dia, diantaranya luas lahan pertanian di Sulawesi Selatan yang terus berkurang. Data BPS mencatat, lahan pertanian di Sulsel pada 2022 seluas 3,652 juta Ha. Turun -0,09% dibandingkan 2020 seluas 3,656 juta Ha. Tingkat produktivitas produksi padi di Sulsel juga cenderung menurun -0,23% per tahun dalam kurun waktu 2011-2020.

Jumlah petani di Sulsel pada Februari 2023 sebanyak 1,58 juta orang, beerkurang 300 ribu atau -1,89% dibandingkan Februari 2022 yang mencapai 1,61 juta orang.

“Melihat kondisi tersebut, diperlukan strategi yang dapat mendorong sektor pertanian Sulsel berkembang dan berkontribusi lebih baik,” sebutnya.

Salah satunya mengimplementasikan teknologi pertanian dan teknik digital farming. Melalui digital farming, petani diharapkan dapat meningkatkan akurasi dan presisi dari penggunaan sumber daya pertanian dengan menghasilkan output yang optimal dengan bantuan otomasi IoT (internet of things).

Peralatan IoT yang digunakan dapat mengatur waktu dan kuantitas irigasi, penggunaan pupuk, sesuai faktor cuaca, keadaan tanah, faktor lainnya sesuai dengan kebutuhan tanaman secara akurat. Platform digital juga dapat memperluas akses petani baik dari sisi akses permodalan maupun akses pasar.

Baca Juga :   Perkuat Sinergitas, PLN Teken Pedoman Kerja Teknis bersama Polda Sulbar

Hikmatullah Insan Purnama dari Platform Agree Telkom yang menjadi narasumber di acara itu menyebutkan, riset yang dilakukan Telkom atas penerapan digital farming, menyimpulkan petani dapat meningkatkan produktivitas hingga 40%, menurunkan penggunaan air dan nutrisi sebesar 40% dan menurunkan 50% biaya operasional.

Praktisi digital farming dari PT Habibi Digital Nusantara menyatakan, implementasi digital farming, rata-rata berhasil meningkatkan profit sebesar 67% dan produktivitas sebesar 19%. Capaian peningkatan produktivitas tersebut diperoleh karena petani dapat menghemat penggunaan sumber daya (Air, pupuk, dan saprodi).

Itu terjadi karena petani menggunakan data yang diperoleh dari perangkat teknologi digital IoT untuk memenuhi kebutuhan tanaman secara akurat. Sehingga, petani tidak lagi menggunakan intuisi semata dalam melakukan budidaya.

Namun demikian, terdapat sejumlah tantangan dalam mengimplementasikan digital farming, khususnya di wilayah Sulawesi Selatan. Kendala konektivitas yang belum dapat dijangkau sinyal BTS jaringan telekomunikasi, juga literasi digital petani yang masih rendah.

“Perlu ada pendampingan intensif pada penerapan digital farming. Juga perlu sinergi lintas lembaga untuk memajukan sektor pertanian,” ujarnya.

Bank Indonesia mendorong 33 Kantor Perwakilan di daerah untuk mengembangkan klaster petani dan UMKM binaan dengan memberikan eksposur digital farming. Hingga 2023, terdapat 93 UMKM atau petani dilibatkan dalam program digital farming.

UMKM dan klaster binaan memperoleh manfaat berupa akses pemasaran lebih luas dengan adanya peningkatan kualitas pada produk yang dihasilkan. Khusus di Sulawesi Selatan, BI Sulsel memberikan pendampingan dan bantuan terhadap Gapoktan Harapan Jaya di Kabupaten Gowa sebagai produsen padi dengan luas lahan 270 Ha. Bantuan yang diberikan berupa bantuan teknis untuk penanaman menggunakan pola tanam Hazton, alat sensor dan akses kerja sama terhadap platform digital mitra Bank Indonesia. Sementara Gapoktan, dapat meningkatan produktivitas produksi padi, akses pasar lebih luas melalui online platform digital yang digunakan.

Baca Juga :   DigiFest 2020 Dorong UMKM Lokal Naik Kelas

“Ke depan, BI Sulsel terus mendorong peningkatan sektor pertanian Sulsel melalui implementasi strategi tepat guna didukung kebijakan berbasis riset dengan dukungan universitas di daerah,” ujarnya.

Editor : Bali Putra