Disupport Rp 30 M Bantuan Keuangan, Gubernur Andi Sudirman Resmikan Jembatan Kembar di Parepare

350

BISNISSULAWESI.COM, PAREPARE – Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman meresmikan pembangunan Jembatan Kembar yang berlokasi di Kecamatan Bacukiki Barat.

Peresmian itu ditandai penandatanganan prasasti oleh Gubernur Sulawesi Selatan dalam acara 63 Tahun Kota Parepare di Lapangan Tenis Rujab Walikota Parepare, Senin (20/3/2023).

Hadirnya jembatan kembar yang berlokasi di Jalan Suaka Alam Lestari, Kelurahan Bumi Harapan, Kecamatan Bacukiki Barat, Kota Parepare ini telah selesai dibangun Pemkot Parepare melalui Bantuan Keuangan Pemprov Sulsel TA 2022.

Dimana tahun 2022 lalu, Gubernur Sulsel mengalokasikan Rp 30 Miliar bantuan keuangan Provinsi TA 2022 kepada Pemerintah Kota Parepare untuk pembangunan jembatan kembar jalan lingkar tengah.

POTO : ISTIMEWA

“Alhamdulillah, kita meresmikan jembatan kembar yang dibangun melalui Bantuan Keuangan Pemprov TA 2022. Jembatan ini nantinya berfungsi untuk mengurai kemacetan di poros nasional Makassar – Parepare Jembatan Sumpang Minangae,” ungkap Gubernur Andi Sudirman.

Hadirnya jembatan ini juga mendukung jalan lingkar tengah (Swaka Alam Lestari) yang dibangun melalui bantuan keuangan Provinsi TA 2021 Kepada Pemkot Parepare lalu senilai Rp 10 Miliar.

“Kita mengapresiasi Pemkot Parepare atas komitmennya menyelesaikan pembangunan melalui bantuan keuangan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, kata dia, bahwa hadirnya akses jembatan ini juga untuk mengurangi load traffic dalam Kota Parepare.

“Kita harapkan hadirnya jalan dan jembatan ini dapat menjadi akses alternatif masyarakat, yang nantinya dapat memacu perekonomian masyarakat,” tuturnya.

(*)

Baca Juga :   *Cegah Virus ASF, Dinas Pertanian Masifkan Penanganan Ternak Babi di Luwu Utara* Luwu Utara --- Virus African swine fever (ASF) atau flu babi Afrika kini sudah mulai terdeteksi di Kabupaten Luwu Utara sejak April 2023 lalu. Di mana pada 24 April, Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kecamatan Mappedeceng menerima laporan kematian ternak babi di Desa Mekar Jaya dengan tanda-tanda klinis sebelum mati, yaitu tak mau makan, demam tinggi, feces encer berwarna hitam kecokelatan, pendarahan di hidung dan telinga, sesak napas dan berak darah. Dengan ditemukannya kasus tersebut, Puskeswan langsung mengambil langkah cepat dengan mengoordinasikan kejadian tersebut ke Dinas Pertanian Luwu Utara. Gayung pun bersambut. Pada 28 April 2023, Dinas Pertanian langsung turun ke lapangan melakukan surveillance. Selang sehari, Dinas Pertanian bersama Tim Balai Besar Veteriner (BBVET) Maros mengambil sampel ternak babi di Desa Mekar Jaya, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Pada 2 Mei 2023, terkonfirmasi bahwa hasil uji laboratorium BBVET Maros diyatakan ternak babi tersebut positif virus ASF. Hingga saat ini, 15 Mei 2023, berdasarkan data Dinas Pertanian Luwu Utara, tercatat 4.755 ekor babi telah mati, yang tersebar di Kecamatan Tanalili, Bonebone, Sukamaju, Sukamaju Selatan, Sabbang dan Sabbang Selatan. Guna mengantisipasi agar kasus kematian babi tidak meluas, Dinas Pertanian memasifkan penanganan ternak babi. Kepala Dinas Pertanian Luwu Utara, Rusydi Rasyid, mengatakan bahwa pihaknya saat ini tengah memasifkan penanganan ternak babi di seluruh wilayah Luwu Utara, mulai dari sosialisasi di sentra-sentra peternakan babi, pengobatan ternak babi yang sakit, pembagian desinfektan, menerbitkan Surat Edaran Bupati tentang Penutupan Lalu Lintas Ternak Babi yang ditujukan ke para Camat/Desa/Lurah, serta membentuk Tim Terpadu Kewaspadaan Penyebaran Flu Babi. “Ini semua kita lakukan dalam rangka untuk meminimalisir risiko penularan flu babi. Sekaligus sebagai upaya deteksi dini, serta upaya pencegahan penyebarannya di level peternakan,” jelas Rusydi Rasyid, Senin (15/5/2023), di Masamba. Rusydi menjelaskan bahwa terkait sosialisasi, pihaknya terus memberikan pemahaman terkait penyakit ASF ini. Salah satunya adalah mengingatkan masyarakat bahwa penyakit flu babi ini memiliki tingkat kematian 100%. Kendati demikian, kata dia, penyakit flu babi ini tidak bersifat zoonosis alias tidak menular ke manusia. Sementara terkait pembentukan Tim Terpadu Kewaspadaan Penyebaran Flu Babi, Rusydi menyebutkan bahwa tim ini terdiri dari dokter hewan dan paramedik peternakan yang berjumlah 87 orang, yang terdiri dari 7 dokter hewan, dan 80 paramedik peternakan. “Tugas utama dari tim ini adalah melaporkan perkembangan kasus penyakit flu Babi,” sebut Rusydi. Selain itu, lanjut dia, juga memberikan informasi dan edukasi terhadap kewaspadaan penyakit flu babi serta melakukan pengawasan lalu lintas ternak babi, baik yang masuk maupun yang keluar daerah antarkabupaten/kota dan antarprovinsi. “Ini adalah upaya-upaya penanganan dan pengendalian yang kami lakukan, sekaligus langkah-langkah pencegahan agar kasus virus African swine fever (ASF) atau flu babi Afrika ini tidak semakin melebar,” pungkasnya. (LH)