IHSG bergerak Melemah Setelah Libur Lebaran

109

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – IHSG bergerak melemah setelah libur lebaran selama sepekan. Pergerakan IHSG merespon beberapa sentimen negatif yang terjadi selama seminggu terakhir seperti kekhawatiran tingginya inflasi dan yield US10Y yang berimbas pada kenaikan suku bunga oleh The Fed sebesar 50 Bps.

Selainitu, ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina semakin meningkat dan lockdown nya kota-kota besar di Tiongkok akibat lonjakan Covid19 hingga virus jenis baru hepatitis akut, menambah katalis negatif pada pergerakan IHSG hari ini.

Namun di satu sisi, tren pemulihan ekonomi di dalam negeri terus berlanjut seiring dengan terkendalinya kasus covid19. Mobilitas masyarakat terus meningkat signifikan terutama saat libur lebaran karena diperbolehkannya mudik pada tahun ini oleh pemerintah.

Disamping itu rally nya harga komoditas akibat terganggunya supply chain membuat neraca transaksi berjalan terus mencatatkan surplus dan membuat nilai tukar rupiah kita terus stabil. Sehingga seiring dengan tren pertumbuhan ekonomi ini, maka berpotensi membuat IHSG masih akan terus melanjutkan rally jangka panjangnya.

*GDP Growth Rate YoY Q1*
Act : 5.01%
Prev : 5.02%
Cons : 5%

*Inflation Rate YoY April*
Act : 3.47%
Prev : 2.64%
Cons : 3.34%

Secara teknikal IHSG breakdown bullish channel dan berhasil menutup gap yang terbentuk di level 6,955. Volume transaksi stabil menurun dibawah rata-rata, Tren MACD negatif menguat dan momentum RSI, Stochastic netral melemah menuju oversold. Sehingga IHSG berpotensi mengalami tren pelemahan jangka pendek ke menengah menuju area trendline 6,850-6,875.

Investor asing juga terpantau melakukan taking profit di beberapa saham mover hari ini. Namun di sisi lain terjadi inflow pada sektor FMCG dan Mining seperti UNVR, ANTM, ITMG dan UNTR. Sehingga sektor ini bisa dipertimbangkan di tengah periode koreksi IHSG kali ini.

Baca Juga :   Yuk Kunjungi dan Daftar Maba Undipa Selama Pameran, Gratis

R1 : 6,955
R2 : 6,963
R3 : 7,000
S1 : 6,875
S2 : 6,850
S3 : 6,830

Sumber : BRIDanareksa Sekuritas