Kakao, Primadona Ekspor Perkebunan

Tabel Data Kakao Sulsel / Sumber: Dinas Perkebunan Sulsel

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR — Target pemerintah Indonesia jadi produsen biji kakao terbesar di dunia pada 2020 masih jadi dilema. Pasalnya, pasokan biji kakao dari Sulawesi yang selama ini jadi tumpuan (sekitar 80%) ekspor kakao Indonesia menunjukkan trend penurunan. Sementara di sisi lain, kita berkejaran dengan waktu target yang sudah didepan mata.
Sementara upaya pemerintah selama ini tak selalu berjalan mulus. Ada hambatan “menggerus” produktivitas kakao, seperti pengadaan bibit, pupuk, fermentasi, iklim, penyakit dan sebagainya.

“Dibutuhkan langkah taktis berbasis riset untuk kembalikan masa kejayaan produksi kakao Indonesia. Sudah tepat Mars bangun Litbang teknologi kakao di Sulsel,” ujar Untung Suropati, dosen Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (Unhas), belum lama ini.
Sementara Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo menyambut gembira pembangunan pusat riset dan teknologi kakao di Pangkep. “Kita kem­balikan kejayaan kakao daerah ini. Apalagi kakao masih jadi primadona ekspor kita dari sektor perkebunan,” ujar Syahrul.
Menurut dia, Sulawesi Selatan merupakan pemasok/produsen utama kakao Indonesia, me­nyusul Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat. Dari ke empat propinsi tersebut, Sulsel tercatat pertumbuhan tertinggi mencapai 8,6%.

Khusus di Sulsel, sentra kakao berada di kawasan Luwu Raya dengan tiga kabupaten (Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur). Dengan total target produksi kakao 276 ribu ton pada 2017, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun lalu 145 ribu ton yang senilai Rp 4,6 triliun dengan areal tanam 239.266 ha.
Berangkat dari optimisme tersebut, rasanya Sulawesi menjadi lokomotif kakao nasional untuk pen­­capaian target Indonesia jadi produsen kakao terbesar di dunia pada 2020 bukan mimpi di siang bolong. / Mohamad Rusman

Baca Juga :   Memangkas Kendala Usaha di Daerah