Kemenkeu Dorong Kemitraan Indonesia-Australia melalui Program Kewirausahaan KINETIX NEX

10
Direktur Kerjasama Multilateral dan Keuangan Berkelanjutan Kemenkeu RI, Boby Wahyu Hernawan saat berbincang dengan 15 startup yang lolos seleksi program KINETIK NEX, Kamis (28/08/2025). POTO : BALI PUTRA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI terus mendorong Kemitraan Indonesia–Australia untuk iklim, energi terbarukan dan infrastruktur melalui program kewirausahaan yang dijalankan New Energy Nexus Indonesia dengan dukungan KINETIK.

“Kami (Kemenkeu RI, Red) selalu memelihara hubungan baik dengan semua pihak, termasuk dengan Australia dan lembaga multilateral lain, serta mencoba mengarahkan bersama bentuk kolaborasi antara Indonesia dengan para mitra,” ungkap Direktur Kerjasama Multilateral dan Keuangan Berkelanjutan Kemenkeu RI, Boby Wahyu Hernawan di Makassar, Kamis (28/08/2025).

Program kewirausahaan yang merupakan proram inkubasi bisnis KINETIK NEX sendiri, diluncurkan dengan menjadikan Makassar sebagai tuan rumah sehari sebelumya, yakni Rabu (27/08/2025).

Salah satu startup yang lolos seleksi program kewirausahaan KINETIK NEX. POTO : BALI PUTRA

Dikatakan Boby, range kemitraan memang beraneka ragam. Mulai kerjasama dengan kapasitas besar sekali, medium, small dan mikro.

“Nah, yang saat ini dijalankan KINETIK NEX, menyasar mikro,” sebut Boby.

Ia berharap, program kewirausahaan KINETIK NEX dapat sustain dan mendukung aksi iklim serta pembangunan berkelanjutan.

Dikatakan, Kemenkeu RI akan terus mendorong untuk melihat local problem dan local solution. Bukan hanya dari sisi mikro, juga untuk sisi medium dan sisi sangat besar secara bersamaan.

“Ini (program, red) sangat baik. Saya juga belajar banyak tentang local problem dan local solution, iklim serta pembangunan berkelanjutan,” tambah Boby yang saat itu sempat berbincang langsung dengan 15 startup yang lolos seleksi untuk kemudian mendapat pendampingan KINETIk NEX selama 8 minggu, hingga terpilih 5 startup yang akan mendapatkan dana total Rp1,6 miliar.

Boby menyebutkan, program ini akan memberikan harapan dan semangat serta menjadi contoh yang baik ke depan. Ia berharap event seperti ini dapat terus dilaksanakan. Apalagi menurutnya, ke-15 startup yang terlibat, semuanya baik dan diyakini menemukan jalannya masing-masing.

“Yang terpenting, semangat mereka harus dihargai dan didukung atau dorong  terus. Kemenkeu tentu siap membantu, tentunya diawali yang high level terlebih dahulu, untuk memfasilitasi berbagai hal. Ini akan kami coba advokasi ke berbagai Kementerian lain yang ikut memperhatikan,” sebutnya.

Sementara itu, program kewirausahaan KINETIK NEX bertujuan mendukung Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di sektor energi bersih dan iklim, dengan fokus khusus pada wilayah Indonesia Timur.

Ada 15 startup dari seluruh Indonesia berhasil lolos seleksi mengikuti program ini, dari 55 startup yang mendaftar. Salah satunya, startup energi terbarukan asal Makassar, Petrojel. Di mana, petrojel, mengolah minyak jelantah menjadi biodiesel yang dapat digunakan petani, nelayan, dan industri sebagai alternatif ramah lingkungan dan terjangkau pengganti solar.

Ke-15 startup nantinya akan mendapat pendampingan bisnis dari program KINETIK NEX, termasuk mentoring dan akses ke investor. Lima dari startup tersebut nantinya mendapatkan pendanaan senilai total Rp 1,6 miliar untuk menguji solusi iklim mereka.

Bali Putra