Kenali dan Pahami Ciri Hoaks: Solusi Jitu Melawan Hoaks

POTO : ISTIMEWA

BISNISSULAWESI.COM, KABUPATEN GORONTALO – Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, kembali dilaksanakan secara virtual pada 4 Desember 2021 di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

 

Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Adapun tema saat ini adalah “Menjadi Daerah Pintar di Era Digital”.

 

Webinar kali ini dimoderatori oleh Rachman Pratama dan menghadirkan empat orang narasumber, yaitu Erfan Hasmin selaku praktisi IT sekaligus dosen, Willem Musu selaku dosen Dipa Makassar, Komang Aryasa selaku praktisi digital, serta A. Tenri Pakkua Bungawalia selaku kreator konten.

 

Diskusi tersebut dimoderatori oleh selaku jurnalis. Kegiatan webinar kali ini diikuti oleh 883 peserta dari berbagai kalangan usia maupun profesi.

Acara dimulai dengan video sambutan dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. Berikutnya, pemateri pertama Tenri Pakkua Bungawalia membawakan paparan berjudul “Pentingnya Pemahaman Membedakan Informasi Hoax”.

 

Bungawalia mengatakan, berdasarkan survei Centre for International Governance Innovation (CIGI), sekitar 86% pengguna  internet di dunia menjadi korban hoaks. Faktor yang mempengaruhi seseorang percaya hoaks, di antaranya kecenderungan untuk menyangkal fakta dan keterikatan secara ideologis maupun politik terhadap penyebar hoaks.

 

“Cara efektif untuk melawan hoaks adalah dengan mengenali ciri hoaks, yaitu sumber berita tidak jelas dan kerap mengeksploitasi fanatisme SARA,” terangnya.

Sesi pemaparan materi dilanjutkan oleh Erfan Hasmin yang membahas mengenai “Pentingnya Memiliki Digital Skill di Era Pandemi COVID-19”. Ia menuturkan bahwa situs jejaring sosial memungkinkan penggunanya untuk membuat profil, melihat daftar pengguna, serta mengundang atau menerima teman untuk bergabung dalam situs tersebut.

Baca Juga :   BENDUNG SUPLESI BANTIMURUNG RUSAK, WAGUB UPAYAKAN PERBAIKAN

 

Di era digital, “jaringan sosial” telah menjadi standar dalam komunikasi digital, sehingga muncul jenis  pekerjaan baru, misalnya spesialis sosial media. “Banyak perusahaan mencari spesialis media sosial untuk mengelola akun media sosial milik perusahaan. Mereka bertugas merencanakan konten, penulisan caption dan strategi penjadwalan materi,” tuturnya.

 

Willem Musu sebagai pemateri ketiga membawakan materi berjudul “Media Sosial sebagai Sarana Meningkatkan Demokrasi dan Toleransi”. Dalam sesinya, Willem membagikan tips untuk membangun budaya digital, yaitu mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika di dunia maya, mendorong perilaku mencintai produk dalam negeri, dengan membuat konten-konten menarik yang berisi produk-produk lokal, serta membangun ruang digital dengan keteraturan.

 

“Ada baiknya generasi muda mendigitalisasi atau memperkenalkan kebudayaan Indonesia, mengingat aplikasi-aplikasi saat ini banyak didominasi budaya barat,” kata dia.

Komang Aryasa menutup sesi pemaparan dengan materi berjudul “Memahami Aplikasi Keamanan dan Pertahanan Siber di Dunia Digital”. Ia menuturkan bahwa terdapat lima elemen keamanan siber, di antaranya keamanan aplikasi, keamanan jaringan, keamanan operasional, pendidikan akhir pengguna, serta keterlibatan manajemen.

 

Salah satu contoh kasus ancaman keamanan siber adalah web defacement atau peretasan situs yang mengubah tampilan asli atau konten dari sebuah situs. “Serangan ini dilakukan dengan memanfaatkan kelemahan sistem, sehingga memungkinkan pelaku memiliki akses masuk hingga ke bagian server dan memiliki kewenangan untuk mengganti atau menghapus konten suatu situs,” jelas Komang.

Selanjutnya, moderator membuka sesi tanya jawab yang disambut meriah oleh para peserta. Selain bisa bertanya langsung kepada para narasumber, peserta juga berkesempatan memperoleh uang elektronik, masing-masing senilai Rp100.000 bagi 10 penanya terpilih.

Salah seorang peserta, Prafina, bertanya mengapa orang-orang yang berpendidikan tinggi sampai bisa termakan hoaks. Menanggapi pertanyaan tersebut, Unga menjelaskan bahwa pendidikan tidak menjamin seseorang tidak akan termakan hoaks. Faktor utama sesungguhnya adalah kecakapan kita dalam menanggapi dan menyaring baik atau tidaknya suatu konten.

Baca Juga :   Dukung Sektor Pendidikan, YBM PLN Bantu Beasiswa 20 Mahasiswa UCM

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan informatif yang disampaikan narasumber terpercaya.

 

Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, silakan kunjungi https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.