KPPU Paparkan Hasil Pantauan Jelang Ramadan

509

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan berbagai kenaikan harga berbagai komoditas pangan, baik di tingkat produsen maupun konsumen.

Kenaikan di tingkat produsen, terjadi di beberapa komoditas pangan, khususnya pada wilayah Pulau Kalimantan (Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat), Pulau Jawa (Banten dan Jateng) serta Jambi, Bali dan Nusa Tenggara Barat.

Pada tingkat konsumen, kenaikan terjadi hampir di seluruh wilayah. Dari pengawasan, kenaikan perlu diwaspadai dan diantisipasi pada komoditas beras premium, beras medium, cabe rawit merah serta jagung pilpilan kecil.

Itu dikarenakan, komoditas tersebut merupakan salah satu bahan baku utama, untuk memproduksi produk penting lainnya. Antisipasi tersebut perlu dilakukan, guna menghindari terjadinya kelangkaan yang berdampak pada kenaikan harga.

Temuan tersebut dikemukakan Direktur Ekonomi KPPU, Mulyawan Renamanggala, beserta Kepala Kantor Perwakilan KPPU di seluruh wilayah Indonesia, dalam forum dengan
jurnalis, tentang antisipasi tindakan anti persaingan menjelang Ramadhan, yang
dilaksanakan secara daring, Senin (20/3/2023).

Sebagai informasi, KPPU bertugas memastikan persaingan usaha berjalan
dengan baik, agar inflasi dapat dikendalikan. Momentum hari besar keagamaan, seringkali memberikan tekanan pada harga berbagai komoditas bahan pokok.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, KPPU baik di tingkat pusat maupun wilayah, aktif melakukan pengawasan di lapangan, atas berbagai komoditas penting.

Dalam masa menjelang Ramadan 1444 H ini, KPPU menemukan berbagai kenaikan harga di berbagai komoditas.

Dari koordinasi yang dilaksanakan dengan pemerintah, berbagai kelangkaan barang tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Seperti faktor cuaca dan hama, kenaikan permintaan menjelang hari besar keagamaan, pengurangan subsidi biaya produksi, atau adanya peremajaan tanaman pangan.

Untuk itu, KPPU memfokuskan observasinya pada tiga komoditas, yakni beras, minyak goreng rakyat dan daging sapi/kerbau.

Baca Juga :   Penjualan Elektronik Sepi

Pada komoditas beras, diketahui harga beras nasional terus mengalami kenaikan sejak September 2022, yang diduga dipicu oleh kenaikan biaya produksi beras.

Namun dari sisi pasokan, masih terdapat surplus produksi beras sebanyak 2,6 juta ton pada Maret dan 800 ton di bulan April.

Pada minyak goreng, volume Minyakita meningkat dibandingkan bulan
Januari 2023, namun secara proporsi masih lebih rendah dibandingkan minyak curah.

Pendistribusian DMO Minyak Goreng Rakyat dalam bentuk Minyakita, bulan
Februari 2023 sebesar 88.811 ton atau 24,66% dari total DMO. Diharapkan, DMO Minyakita dapat mencapai 40 persen.

Untuk menjaga ketersediaan minyak goreng, antisipasi menjelang puasa dan Lebaran, pemerintah telah melakukan pasokan minyak goreng curah dan kemasan hingga 450.000 ton, naik sebesar 50 persen dari kebutuhan nasional 300.000 ton, yang dilakukan sepanjang periode bulan Februari, Maret, dan April.

Pada komoditas daging sapi, produksi dalam negeri periode Maret dan April 2023 adalah 42.623 ton dan 45.319 ton. Sementara kebutuhan daging sapi
selama Ramadhan dan Idul Fitri 2023 diperkirakan sebanyak 65.987 ton di bulan Maret dan 69.277 ton untuk April.

Sehingga terdapat potensi defisit, yang kemungkinan diantisipasi pemerintah dengan stok awal 2023, dan impor daging sapi/kerbau.

Kenaikan memang terjadi setiap kali melewati periode Ramadhan dan Idul Fitri. Untuk itu, KPPU akan melakukan pemantauan harga dan ketersediaan stok daging sapi dan substitusinya, untuk memastikan ketersediaan stok daging, selama periode hari besar
keagamaan tersebut.

(Nur Rachmat)