Plh Sekda Sulsel Akui Arahan Presiden Soal Kondisi Pangan dan Ekonomi Akan Jadi Perhatian Pemprov

268
POTO : ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, JAKARTA – Pelaksana Harian (Plh) Sekertaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Andi Muhammad Arsjad menghadiri Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) 2023, di Graha Bhasvara Icchana, Jakarta, Rabu (29/11/2023).

Pertemuan tahunan dengan tema ‘Sinergi Memperkuat Ketahanan dan Kebangkitan Ekonomi Nasional’ ini dirangkaikan dengan BI Award 2023 serta arahan Presiden RI Joko Widodo.

Andi Muhammad Arsjad mengatakan, kegiatan ini membahas terkait kondisi ekonomi di Indonesia dengan berbagai tantangan yang dihadapi pemerintah di tengah kondisi krisis global akibat terjadinya peperangan Ukraina dan Rusia, konflik Palestina dan Israel, akibat kondisi iklim, serta potensi dan tantangan ekonomi Indonesia di 2024.

“Tantangan tahun depan tidak mudah dengan berbagai persoalan yang terjadi akibat perang dan perubahan iklim, karena dampaknya bisa saja mempengaruhi ekonomi Indonesia dan ekonomi secara global,” ucapnya.

Muhammad Arsjad juga mengungkapkan, berdasarkan arahan Presiden agar setiap daerah melakukan upaya ketahanan pangan dan terus bersinergi dan berkolaborasi dalam mengantisipasi krisis yang terjadi secara global.

Arahan presiden itu juga disampaikan terkait dengan pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5 persen, serta realisasi belanja pemerintah yang masih rendah baik yang terjadi di daerah maupun di pemerintah pusat.

Muhammad Arsjad menegaskan, arahan presiden ini akan menjadi perhatian Pemerintah Provinsi dalam upaya peningkatan ketahanan pangan di Sulsel yang tentu saja telah didukung dengan hadirnya program pemerintah melalui skema pengembangan budidaya tanaman pisang.

“Dalam upaya peningkatan ketahanan pangan, Sulsel ada skema pengembangan melalui Budidaya Pisang. Ini menjadi solusi tanaman pangan dan hortikultura, bagaimana mengatasi dampak ketahanan pangan dan kemiskinan ekstrim di Sulsel,” tegasnya.

Sementara itu, Presiden RI Joko Widodo dalam arahannya mengatakan kondisi ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja karena adanya dampak konflik antarnegara, seperti perang Ukraina dan Rusia, perang yang terjadi di Gaza dan gejolak ekonomi global.

Baca Juga :   Tarawih di Makassar dilaksanakan di Rumah Saja

Menurutnya, dampak akibat peristiwa tersebut akan sangat menganggu stabilitas ekonomi negara termasuk Indonesia yang berdampak pada rantai pasok global, lonjakan harga pangan, lonjakan harga energi dan berbagai sektor lainnya.

Indonesia patut bersyukur karena pertumbuhan ekonomi tetap stabil pada kisaran angka 5 persen lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa negara lain, seperti Malaysia, Amerika, Korea Selatan, dan Uni Eropa.

Meski demikian, Jokowi mengaku pertumbuhan ekonomi ini ternyata masih belum mempengaruhi peredaran uang dimasyarakat khususnya bagi para pelaku UMKM.

Tidak hanya itu, Inflasi secara nasional juga masih cenderung stabil pada angka 2,6 persen. Hanya saja, kondisi ini tetap harus menjadi perhatian dan perlu untuk diwaspadai untuk pangan, khususnya beras. (*)