Ramadhan Sebagai Titik Pemulihan Dan Kebangkitan Ekonomi Ummat

124

 

 Oleh : Basri Basir MR SE.,M.Ak.,Cbc

Puasa Ramadhan tahun ini, dirasakan berbeda bagi umat muslim dunia. Sebagaimana kita rasakan bersama, bulan suci ramadhan  kali ini harus dilaksanakan masih dalam kondisi pandemi Covid 19 atau biasa disebut masa ‘’New Normal’’. Memang, kondisi ini tidaklah mudah kita hadapi. Tetapi, seabagai umat muslim yang percaya bahwa sesungguhnya apa yang terjadi di muka bumi adalah kehendak Allah SWT , kita sebagai manusia hanya perlu mengimani dan meningkatkan taqwa kita. Terutama di momentum bulan suci ramadhan, sudah sepatutnya kita sebagai manusia biasa, mahluk yang penuh dengan dosa dan khilaf untuk bermuhasabah terhadap diri sendiri, agar senantiasa tidak kufur nikmat dan lalai atas apa yang kita nikmati diatas muka bumi ini.

Seperti kita ketahui bersama, hampir di semua negara satu tahun terakhir ini, berlomba mencari strategi meminimalisir dampak yang ditimbulkan oleh pandemi ini. Sebab ada dua hal pokok yang mangalami imbas, pertama adalah ancaman kesehatan/kemanusiaan dan yang kedua, ekonomi.

Di Indonesia sendiri, ekonomi pada kuartal pertama dan kedua pernah menyentuh angka minus (–) 5%. Bukan hal mudah untuk bangkit dari resesi ekonomi global. Semua negara hampir kelabakan dalam menghadapi hal tersebut. Terutama di Indonesia, resesi disebabkan berbagai hal, salah satunya lesunya ekonomi akibat GDP menurun, dan daya beli masyarakat sangat rendah. Sudah berbagai hal dan strategi dilakukan pemerintah diantaranya, memberikan bantuan jaring pangaman sosial yang terdiri dari bantuan pemulihan kesehatan,  ekonomi dan sosial dalam berbagai bentuk, baik secara tunai maupun non tunai.

Kita patut mengapresiasi kerja pemerintah, terutama terkait menahan laju sebaran kasus baru Covid 19. Di beberapa negara, termasuk Indonesia, sudah mendatangkan vaksin sinovac asal Tiongkok dengan harapan untuk menahan laju kasus baru tersebut. Sehingga ke depan harapan kita bersama indonesia menuju ‘’Herd Immunity’’ dengan begitu perlahan-lahan kita akan kembali masuk dalam kondisi normal. Lalu bagaimana dengan Ekonomi kita?, tentu kita juga berharap di kuartal pertama 2021 ini ekonomi kita bisa tumbuh sedikit demi sedikit. Beberapa pengamat memperkirakan bisa tumbuh di atas angka 0,28% dengan berbagai indikator secara makro maupun mikro. Meskipun tidak signifikan kenaikannya, namun harapan kita angka ini terus naik. Sebab, kalau tidak bukan hanya resesi yang akan terjadi tapi bisa depresi ekonomi jangka panjang. Tentu, harapan kita tidak demikian.

Baca Juga :   IHSG di Pusaran Tahun Poltik, Perekonomian China dan Kebijakan Bank Sentral Amerika

Melalui momentum bulan suci Ramdan 1442 Hi, kita berharap ekonomi kita bisa tumbuh kembali  dan daya beli masyarakat bisa lebih bergairah. Sebab trend kita di Indonesia biasanya ada kenaikan signifikan menjelang  Hari Raya Idul Fitri. Oleh karena itu , pemerintah harus segera melakukan strategi untuk memancing daya beli masyarakat. Misalnya, melakukan operasi pasar dan penetrasi pasar. Kemudian, membuka bazar murah kerjasama dengan Kementerian terkait yang membidangi ekonomi, sosial, keagamaan. Segera berikan hak bayar kepada para pegawai pemerintah dan karyawan swasta sehingga hal tersebut bisa mempercepat masyarkat kita untuk mempergunakan dananya, untuk membeli keperluan sehari-hari dan menjelang Hari Raya idul fitri.

Dengan begitu ekonomi kita kembali bergairah dan pelan-pelan pertumbuhannya kita bisa lihat apakah mengalami trend kenaikan atau malah sebaliknya. Selanjutnya, para palaku industri juga kita dorong untuk melakukan ekspor terutama dibidang industri manufaktur dan jasa berkaitan dengan fashion muslimah, dan semacamnya. ini bisa juga kita dorong dan tingkatkan melalui kementerian terkait, sehingga harapan kita momentum bulan suci Ramadan tahun ini kita jadikan sebagai titik awal kebangkitan ekonomi Ummat yang memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia.

Penulis : (Anggota Bidang Ekonomi Kewirausahaan PW Pemuda Muhammadiyah Sulsel dan Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Makassar