Wakil Menteri Desa PDTT Dukung Program Budidaya Pisang di Sulsel

213
Wamendes PDTT, Prof. Paiman Raharjo mendukung budi daya pisang yang merupakan salah satu program perioritas Penjabat Gubernur Sulsel, Bahtiar Baharuddin sebagai upaya penanggulangan kemiskinan, stunting, inflasi dan peningkatan ketahanan pangan. POTO : ISTIMEWA

 

BISNISSULAWESI.COM, MAKASSAR – Wakil Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Trasmigrasi (Wamendes PDTT), Prof. Paiman Raharjo mendukung budi daya pisang yang merupakan salah satu program perioritas Penjabat Gubernur Sulsel, Bahtiar Baharuddin sebagai upaya penanggulangan kemiskinan, stunting, inflasi dan peningkatan ketahanan pangan.

Dukungan disampaikan Paiman saat silaturahmi bersama dengan kepala OPD lingkup Pemprov Sulsel dan akademisi, di Pelataran Inninawa (Lakipadada) Rumah Jabatan Gubernur, Selasa (10/10/2023) malam.

Paiman tiba di Makassar Sulsel disambut Penjabat Gubernur Sulsel, Bahtiar Baharuddin dikemas dalam acara silaturahmi. Pada kesempatan itu, Paiman yang juga Rektor Universitas Moestopo Jakarta, memberikan arahan bagaimana mengelola desa.

“Membangun dari desa merupakan salah satu program bapak  Presiden Jokowi dalam Nawacita, yaitu membangun dari pinggiran,” ujar Paiman.

Meningkatkan atau membangun sebuah desa, tambah Paiman, tentunya harus berdasarkan potensi dan kultur serta potensi yang ada di desa.Potensi kearifan lokal desa, dikembangkan kemudian diboomingkan, akan menjadi nilai ekonomi yang efeknya bisa menopang ekonomi nasional.

Pemerintah memberikan alokasi dana desa (ADD) yang meningkat setiap tahun. Pada 2022 sebanyak Rp68 triliun, 2023 Rp70 triliun dan 2024 sebanyak Rp80 triliun. Kementerian Desa tugasnya memantau penggunaan ADD. Pengelolanya langsung  Kementerian Keuangan. Setiap tahun, perioritasnya berbeda.

“Tahun lalu unntuk penanganan stunting. Tahun ini ketahanan pangan, kemudian untuk masalah sosial dan lainnya,” urainya.

Sehingga, menangani kemiskinan tidak bisa dari program pemerintah saja. Tetapi, bagaimana partisipasi dari masyarakat dan pengusaha dalam rangka menumbuh kembangkan desa. Misalnya dalam pemberdayaan BUMDes. Masyarakat juga dapat berpatisipasi dalam permodalan. Sehingga permodalan internal dari masyarakat itu sendiri akan memperkuat perekonomian desa.

Program budidaya pisang yang digalakkan di Sulsel, dinilai efektif dalam mengatasi persoalan pangan, stunting dan kemiskinan. Pisang sebagai komoditi yang secara kultural dekat dengan masyarakat Sulsel.

Baca Juga :   Makassar Tuan Rumah City Sanitation Summit XVII

“Saya mendukung kebijakan Pak Gubernur eningkatkan jumlah lahan budidaya pisang. Ini bagus karena di Sulawesi pohon pisang mudah tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu,  perlu diboomingkan bahkan menjadi sebuah ikon untuk Pak Gubernur sebagai provinsi pisang,” pungkasnya. (*)